Minggu, 20 November 2011

Membangun Filsafat Melalui Logika

Logika berasal dari bahasa Yunani yaitu "logike", yang berhubungan dengan kata benda "logos", yang berarti pikiran atau perkataan sebagai pernyataan dari pikiran itu. Hal ini membuktikan bahwa ternyata ada hubungan yang erat antara pikiran dan perkataan yang merupakan pernyataan dalam bahasa.
Secara estimologis, logika adalah bidang penyelidikan yang membahas pikiran, yang dinyatakan dalam bahasa. Secara luas dapat dikatakan bahwa logika adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip-prinsip serta norma-norma penyimpulan yang sah.
Menurut Irving M. Copy dalam karyanya yang berjudul "Introduction To Logic", definisi logika yaitu:
"Logic is the study of methods and principles used to distinguish good (correct) from bad (incorrect) reasoning"
"Logika adalah penelaah mengenai metode-metode dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk membedakan penalaran yang baik dalam arti benar dari penalaran yang jelek dalam arti tidak benar."
Dari definisi tersebut, dapat terlihat bahwa logika adalah suatu alat (tool) yang digunakan untuk dapat berpikir secara sah. Hal ini beralasan karena kenyataannya logika dapat membantu orang yang mempelajarinya untuk dapat berfikir logis.
Menurut Susanne  K. Langer, dalam bukunya yang berjudul "An Introduction To Symbolic Logic" yang mengatakan bahwa: "Logic is to the philosopher what the telescope is to the astronomer: an instrument of vision." (Logika bagi filsuf adalah seperti halnya teropong bagi astronom: suatu alat penglihatan. Logika merupakan suatu alat dari pemikiran filsafat seperti halnya matematika merupakan suatu alat bagi fisika)

Logika bagi filsafat bukan saja merupakan alat pandang sebagaimana dikemukakan Susanna K. Langer, bahkan merupakan esensi dari filsafat sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell.
Obyek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu yang ada meliputi Tuhan, alam dan manusia. Logika membahas salah satu dari potensi rohani manusia yang disebut cipta. Sehingga kita harus sadar bahwa logika hanya mempelajari sebagian kecil saja dari filsafat. Sebagai konsekuensi logisnya, kalau orang berbicara tentang logika harus disinggung pula posisi logika dalam kerangka filsafat secara keseluruhan.
Beberapa alasan untuk mempelajari logika, yaitu sebagai berikut:
1. Sepanjang logika dipandang sebagai ilmu dan bukan sebagai seni (kecakapan), maka usaha mempelajari logika harus memberikan orang yang mempelajarinya pemahaman tentang hakekat, tentang prinsip-prinsip pemikiran logis.
2. Ditinjau secara praktis yakni sebagai suatu seni, kecakapan, logika harus membantu orang yang mempelajarinya untuk memperbaiki kemampuannya sendiri melakukan penalaran yang meyakinkan, sehingga ia dapat mengetahui perbedaan antara bahan bukti yang baik dan yang buruk bagi suatu kesimpulan
3. Logika diharapkan dapat menjadikan orang yang mempelajarinya sadar akan perbedaan antara bujukan yang mempergunakan berbagai sarana yang psikologis dengan keyakinan rasional yang mempergunakan  bahan-bahan bukti serta penalaran yang logis.
Harapannya dengan berbekal pengetahuan yang fundamental tentang logika diharapkan dapat menambah efisiensi cara berpikir dari seseorang. Dengan menguasai logika diharapkan dapat melakukan pengecekan terhadap hasil-hasil pemikirannya sendiri maupun hasil pemikiran orang lain dengan cara yang obyektif. Dengan logika, seseorang akan terlatih untuk mempercayai hasil pemikirannya sendiri, yang kemudian dapat mengembangkan cara berpikir ilmiah yang konsisten dan logis. Logika dapat meningkatkan kemampuan kita dalam mengungkapkan gagasan-gagasan  secara jelas dan ringkas. Logika juga dapat melatih untuk menambah daya berfikir abstrak.

Sumber:
H.A.Dardiri. 1985. Humaniora Filsafat dan Logika. UNY: FIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar