Rabu, 14 Desember 2011

elegi menggapai kenyataan

Saat kita ngobrol dengan teman. Orang yang kita lihat, dia "nyata" suara yang kita dengar juga "nyata", kata-katanya juga secara "nyata" kita dengarkan. inilah kenyataan, tidak bisa disangkal bahwa dia berada di depan kita, berbicara kepada kita, dan kita mendengarkan dia berkata-kata. ini kenyataan.
Tetapi...
persepsi kita atau pengertian kita mengenai kata-katanya itu "benar", tetapi pandangan kita yang "benar" mengenai kata-kata itu belum tentu "benar" menurut orang lain alias "salah". ini kebenaran. Kebenaran tidak bisa kita lihat, dengar atau tangkap dengan panca indera, tetapi kita dapat "memikirkannya".
Jadi istilah "merasa benar" itu tidak ada, yang ada "berpikir bahwa dia/kamu/saya benar". Karena benar atau salah bukan untuk dirasakan, tetapi untuk dipikirkan.
Karena hanya manusia yang mengerti hal yang benar dan hal yang salah. Sedangkan makhluk hidup lainnya, mereka hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, tanpa peduli apakah itu benar atau salah karena mereka hidup dalam kenyataan di mana hal yang benar dan salah itu tidak ada.
 
Menurut hemat saya, kebenaran dan kesalahan dalam kenyataannya tidak ada, kebenaran hanya ada dalam pikiran manusia. kebenaran bersifat relatif, sedangkan kenyataan adalah hal yang mutlak. manusia yang berpegang kuat pada kebenaran, mereka cenderung menolak kenyataan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar